30 Jul 2009

Sidang Thesis

Udah lama sih gw sidang thesis, tepatnya hampir setahun yg lalu, November 2008. Cuman baru sempat aja nulisnya sekarang.

So ini point-point yg gw pikir bedanya ama sidang tugas akhir di Indo dulu

Dokumen Thesis Ga Perlu Dicetak Hard Cover

Kalo di Indo, buku thesis harus di jilid hard cover, dikasih lembar kertas kulit jeruk buat halaman pengesahan, dan ada halaman yg berlogo almamater antar chapter-nya. Di sini, itu semua ga perlu. Mungkin karena jilid thesis cukup mahal buat student. Cukup dijilid rapi (bukan pake ring) dengan soft cover, format A4, dan dicetak bolak-balik. Kebanyakan formatnya simple begitu tapi tergantung kebijakan jurusan/universitasnya.

Feedback Sebelum Sidang

Minimal 3 minggu sebelum hari sidang, kedua professor kita harus sudah menerima dokumen thesis kita yg telah dijilid. Maksimal 2 minggu kemudian, tiap-tiap professor wajib mengirim e-mail ato surat ke kamu yang isinya review dan feedback dokumen thesisnya.

Biasanya feedback ini cuman 2-3 halaman. Isinya:

  • Overview and kesimpulan dari dokumen thesisnya. Si Professor menyimpulkan dengan singkat thesis kita, metode yg dipakai, serta hasil penelitian thesis kita. Bukti bahwa si Professornya baca dan mengerti dokumen kita :-D
  • Point-point positive and kekurangan dari thesis. Ini yg gw rasa ga ada di Indo. Dosen di Indo paling jago mencari kelemahan tp jarang bgt yg bisa memberikan point-point yg bagusnya
  • Pertanyaan-pertanyaan buat dijawab pas sidang thesis. Jadi kita tahu kalo masih ada hal-hal yang kurang meyakinkan ato kurang jelas dan bisa dijelaskan pas sidang ntar
  • Nilai sementara. Wow, nilai udah diberikan sebelum sidang. Trus ngapain repot-repot sidang? Sidang jg kesempatan untuk memperbaiki nilai. Jadi kalau sidangnya bagus bgt, ada kesempatan nilaimu jadi lebih baik ;-)

Bonusnya, ini feedback dari kedua professor gw ;-) Kedua feedbacknya dalam bahasa Inggris dan dalam format PDF. Right-click link buat nge-save dokumennya sebelum di-view.

  1. Dari Prof. J. Loviscach, professor pertama (75kb)
  2. Dari Prof. J. Friedrich (113kb)

Pas Sidang

Ga ada dress code resmi, jadi baju agak bebas. Suasanya juga tidak terlalu formal. Kebanyakan orang pake kemeja dan jeans. Kemejanya bisa lengan panjang ato pendek dan ga harus dimasukin. Tp, lagi-lagi, tergantung kebijakan jurusan/universitas.

Ga ada konsumsi sama sekali, baik buat kita maupun buat si professornya. Boleh-boleh aja sih nyediakan snack buat professornya, tp biasanya setelah sidangnya selesai. Ngasih makan ato minum sebelum sidang tidak terlalu common, bisa bingung mereka.

Pas sidang, boleh bawa teman buat jadi penonton :-) Kalo di Indo, ada beberapa jurusan yang sidangnya  tertutup. Presentasinya 30 menit termasuk demo software ato video. Ga boleh lama-lama dan waktu cukup ketat. Setelah presentasi selesai, session tanya jawabnya 20 menit. Inilah kesempatan kita untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada di feedback letter sebelumnya. Juga pertanyaan baru kalo ada. Ga sedikit professor yg pertanyaannya jg ga nyambung. Tp professor macam ini biasanya dianggap tidak professional oleh koleganya :-D

Sidang thesis harus tepat waktu, baik jam mulainya maupun lama sidangnya. Setelah sessi tanya jawab selesai, kedua dosen kita akan diskusi di ruang terpisah. Kadang-kadang, malah kita dan penonton yg disuruh keluar. Sekitar 10 menit kemudian, kita dipanggil masuk sendirian dan barulah hasilnya diberitahukan. Nilai akhir diberitahukan saat itu juga.

Setelah Sidang

Plop!

Biasanya sih ada yg buka Champagne, ato tepatnya Sparkling wine, soalnya Champagne terlalu mahal buat mahasiswa :-D Teman-teman ato bahkan professornya bakal join (kalo mereka ga langsung cabut karena sibuk bgt). Orang-orang pada ngasih selamat. Suasanya enak n nyantai (lihat post gw sebelunya di sini)

Trus gimana kalo ada perbaikan? Apa perlu nyetak lagi dokumen? Ga perlu. Kalo ada perbaikan, biasanya kita di suruh nulis paper tambahan yang bakal diselipkan di dokumen thesisnya.

Sekarang, tinggal tugas kedua professor kita yang menulis surat feedback n nilai akhir yang akan dikirimkan ke administrasi, beserta dokumen yang telah kita berikan ke mereka. -

Sekitar 3-4 minggu kemudian, ijazah akan dikirim lewat pos. Gelar MSc pun ada di tangan.

Minggu lalu, kami berdua bikin paspor baru di kedubes RI Berlin. Karena nomor paspor barunya baru, maka kita harus perbarui stiker visa yang tertempel di paspor lama.

Menurut cerita di forum Internet (kalo ga salah kaskus), prosesnya gampang. Cukup 10 menit dan biayanya hanya 6 EUR. Cukup ke Auslanderbehoerde dan tinggal bilang mau Ubertragen.  Bawa foto biometrik, paspor lama, dan paspor baru.

Tapi ternyata prosesnya perlu 5 jam :-|

Kami datang jm 8 pagi dan antrian buat ngambil nomor panggilan sudah sangat panjang. Pas di loketnya, dengan Jerman terbata-bata kami bilang mo Ubertragen karena paspornya baru. Dokumen kita dicek sekilas dan kemudian dikasih nomor urut berikut dengan informasi di ruang mana kita harus nunggu. Perlu 20 menit sendiri hanya buat ngambil nomor.

Kami menunggu hampir 3 jam untuk dipanggil nomornya. Setelah dipanggil, dokumen kita dicek lagi dan baru dimasukan untuk diproses. Sekali lagi, kita dikasih nomor tunggu. Kali ini kami nunggu hampir 2 jam.

Setelah dipanggil, barulah kita menghadap petugas yang beneran. Kalau sebelumnya kita hanya berhadapan dengan petugas-petugas di loket, kali ini kita masuk ke ruangan dan duduk berhadapan dengan mereka di meja. Prosesnya memang cuman 10  menit. Basically, mereka cuman confirm mo Ubertragen, terus ngetikin data paspor baru kita ke computer. Setelah itu kita harus bayar 10 EUR per orang. Stiker visa kita yang baru pun dicetak dan ditempelkan di paspor baru.

Beres!

Masa berlaku Visa kerja gw tetap seperti yg lama, sampe Oktober 2009. Ntar Oktober harus ke sana lagi buat perpanjang. Udah kenyang banget urusan imigrasi di Berlin. Sejak pindah ke sini 1 tahun yg lalu, ga terhitung udah berapa kali bolak-balik ke situ. Terutama buat ngurus visa kerja yang ribet kemaren. Tapi memang itulah resiko yang harus diambil sebagai imigran.

So, Good luck!

Bulan Maret kemaren, kami mudik 3 minggu-an setelah hampir 2,5 tahun nggak pulang. Benar-benar seru dan asik banget mudik kami kali ini :-)

Pas mo terbang balik ke Berlin, petugas imigrasi di airport Soekarno-Hatta memberi warning karena paspor gw kurang dari 6 bulan.

“Mas, ini paspornya kurang dari 6 bulan. Kalo ada apa-apa tanggung sendiri ya!”.

“Siap, Pak!”, bales gw sambil senyum dikit.

Paspor gw memang bakal abis masa berlakunya tanggal 15 Juni 2009, yang mana sekitar 3 bulan lagi. Gw memang tahu hal ini dan memang berencana untuk memperpanjangnya di Berlin. Soalnya di paspor gw, ada tempelan visa kerja gw, yang masih berlaku sampai Oktober 2009. Kalo gw bikin paspor baru di Indo, stiker visa itu jadi tidak valid (karena nomor paspornya beda). Jadinya harus ngurus visa kerja Berlin gw di kedubes Jerman di Jakarta. Pengalaman gw sangat buruk buat dapetin visa kerja ini, jadi gw ga terkejut kalau prosesnya bakal lebih lama dan ribet kalo diurus dari Indo :-|

Selama di pesawat, sempet khawatir jg kalo terjadi apa-apa. Takut ditolak pas nyambe Jerman dan disuruh balik lagi. Tapi untunglah, pas di airport Tegel, Berlin, petugasnya benar-benar ga bilang apa-apa. Malah dia cuman meriksa  stiker visa kerja gw dan cuman lihat dikit halaman depan paspor gw. Leggaaaaa…. :-)

Triknya: Pas berhadapan dengan petugas imigrasi Jerman, langsung tunjukkan halaman paspor yg ada visa Jerman-nya. Bagi mereka, visa ini yg penting dan bakal di-scan pake komputer.

Bikin Paspor di Kedubes

Sebelum ke kantor kedubes RI Berlin, gw telepon dulu. Karena gw kerja, pengen bikin janji dulu ato setidaknya tahu bakal berapa lama prosesnya. Yang nyambutnya ibu-ibu yang ramah (yang gw lupa namanya, mahap Bu :-p ). Ternyata syaratnya mudah. Ga perlu bawa pas foto karena bakal difoto di sana. Dulu, katanya harus bawa pas foto dengan warna latar merah.

Bawa kontrak kerja (ato Immatrikulationbeschenigung bagi student), akte lahir, ama surat nikah. Semua dokumen asli n bakal di fotokopi di sana. Bagi yang belum pernah lapor diri, bawa juga surat Meldebescheinigung. Jangan lupa uang 20 EUR!! Untuk syarat lengkapnya, bisa dilihat di website kedubes terdekat.

Besok paginya jam 8:30, kami dateng ke kantor kedubes RI. Gw udah ijin kantor bakal masuk jam 11:30.

Baca trus …

Akhirnya, tanggal 19 April kemaren, kami pindah apartemen ke Berlin. Lega banget semuanya berjalan dengan baik dan lancar :-)

Persiapan

Sebenarnya, persiapannya pindah ini lebih dari 2 bulan, termasuk nyari apartemen di Berlin dan ngurus administrasinya. Seminggu sebelum hari-H, semua barang telah selesai dikotakin. Karena barangnya buanyak buanget, kami terpaksa menyewa mobil Mini bus. Rasanya dulu datang ke Bremen dengan 4 koper besar sekarang kok jadi se-minibus ya :-P

Untuk rental mobil, Astrid memesan lewat Internet dan berhasil dapat tawaran yang murah dari AVIS. Dengan 193 Euro, kami dapat Mercedes Vito untuk 1 hari dengan kilometer tak terbatas.

Kami nggak punya SIM. Untungnya, teman dekat kami, Christ dan Christopher (orang Jerman), mau nyetirin dari Bremen ke Berlin dan juga balikin mobilnya ke Bremen. Kalo nggak, biaya pindah bisa membengkak abis untuk sewa sopir.

Julia dan Bjoern juga menawarkan untuk membantu ngangkutin kotak pas pagi hari-H nanti. Untung punya banyak teman di sini :-)

Hari-H

Sabtu, jam 8 pagi, kami ber-6 ngumpul di kantor rental mobil di train station. Pesan mobil atas nama Astrid, tapi harus mendaftarkan SIM-nya Christ dan Christopher (karena mereka yang bakal nyetir). Setelah diberi penjelasan ama mbaknya, kunci beserta beberapa surat/dokumen diberikan. Tanpa petugas, kami sendiri yang ngambil mobilnya di gedung parkir.

Mobil dalam keadaan full-tank, harus dikembalikan juga dalam keadaan full tank dan di parkirkan sendiri ke dalam gedung parkir rental. Kilometer mobil juga tercatat.

Salah satu dokumen yang diberikan mbak rental adalah list kerusakan/goresan/penyok yang udah ada di mobil. Di dalam list itu, terdaftar ‘kerusakan’ apa saja yang sudah ada di body mobil, semcam goresan atau penyok kecil di body mobil. Ada sekitar 7 kerusakan yang menurut gw, sangat kecil. Mobilnya bisa dibilang sangat mulus untuk ukuran orang kita. orang Jerman memang teliti.

Keluar dari gedung parkir, kami stop-in mobilnya untuk mencek ulang list ‘kerusakan’ tersebut. Kita harus memastikan semua cacat pada body mobil tercatat sebelum kita mulai memakai mobil. Soalnya, kalau pihak rental menemukan cacat yang tidak ada dalam list setelah pengembalian, kita bisa kena denda karena dianggap melakukan kerusakan baru. Untungnya Christ dan Bjoern sudah berpengalaman dalam hal ini dan bahkan bisa menemukan beberapa cacat baru yang tidak terdaftar dalam list. Segera mereka telpon ke pusat rental untuk melaporkannya.

Umzug 016
Memeriksa kondisi awal mobil

Cuaca hari itu sangat cerah. Keluar dari gedung parkir jam 9 menuju apartemen di Bremen, serasa kayak mo piknik. Kami berenam, heboh pisan, dalam satu mobil besar :-D Christ yang nyetir, juga bawa GPS buat navigasi perjalanan.

Baca trus …

7 Apr 2008

Pindahan di Jerman

Tiga tahun di Bremen, kami sempat dua kali bantuin teman Jerman kami pindah-pindah. Yang satu pindahan dari Berlin ke Bremen, dan yang satu pindah antar apartemen di kota Bremen. Kalo dibandingkan ama pengalaman gw 2 kali pindahan di Bandung dulu, pindahan di Jerman justru lebih terasa semangat gotong royongnya :roll:

Asiknya Rame-rame

Sewa tukang buat jasa pindahan sangat mahal. Kalo sewa truk aja ga make sopir soalnya sopirnya dibayar per jam (bisa 30 sampai 70 Euro per jam). Begitu pula untuk jasa tukang angkat-angkat. Segitu sangat mahal buat student, bahkan buat orang jerman sendiri. Solusinya, ya panggil teman-teman. Biasanya buat ngangkutin barang-barang yang udah dikotakin ama yang mo pindahan.

Truk Pindahan

Perlu waktu 2 – 3 jam buat ngeluarin ato masukin barang, tergantung lantai berapa apartemennya dan jumlah teman yang bantuin.

Kalo gotong royong versi buku pelajaran Pancasila atau Bahasa Indonesia pas SD dulu, biasanya prianya bikin jembatan ato bersiin got sedangkan wanitanya di dapur, masak ubi/pisang goreng dan nyiapin teh buat para prianya :-D Di sini, ga ada pembedaan antara cewek dan cowok. Semua tugasnya sama, ngangkutin barang baik yang berat maupun yang ringan. Jadi ga ada cerita kalo yang ringan buat cewek dan yang berat buat yang cowok.

Kami ber-7 waktu itu, dan gw sendiri yang bukan Jerman. Sempat minder jg, soalnya gw yang paling kecil sendiri jadi ga sekuat yang lain :-( Barang-barang yang mampu gw angkutin terbilang kecil dibanding yang lain. Teman gw itu apartemennya lantai 5 tanpa lift, dan di truknya ada kulkas gede, mesin cuci, sofa, dan juga kompor. Kebayang betapa susahnya pas ngangkutin itu naek tangga.

Terus pindahan yang satunya, kami ber-6 dan cuman gw ama Astrid yang bukan orang Jerman. Kasihan si Astrid karena paling kecil sendiri, tapi lebih malang lagi gw, cowok dan kedua terkecil :-(

Tapi itu benar-benar ga masalah. Yang paling penting bagi mereka adalah helping hand dan kemauan buat menolong :-)

Sarana Mempererat Pertemanan

Meskipun otot bisep pegal-pegal sampe ga bisa ngangkat tangan lagi, tapi ternyata asik juga bantuin pindahan. Pertemanan makin erat dan kita bisa dapat teman baru. Setelah pindah-pindah bisa ngopi ato lunch bareng ato diundang party ama mereka.

Gotong royong pindahan dengan bantuan teman-teman memang mentradisi di Jerman. Jadi bukan hanya karena masalah keuangan, soalnya gw pernah lihat tetangga-tetangga gw yang udah kerja, berkeluarga, dan berusia 30-an (uang mungkin ga terlalu masalah), tapi pindah-pindahannya masih dibantuin keluarga dan teman kantor. Bukan hanya pindahan, tapi juga nge-cat rumah, renovasi dapur, atau bikin kebun baru.

Kami jg bakal pindah pertengahan bulan April ini ke Berlin. Untungnya, kami beruntung ditawarin bantuan dari 2 orang teman Jerman kami buat nyetirin mobil sewaan dari Bremen ke Berlin (dan juga ngebalikin mobil ke rental di Bremen). Tanpa SIM Jerman percuma nyewa truk, soalnya ga boleh nyetir (SIM Indonesia dan SIM Internasional dari Indonesia tidak diakui di sini). Beberapa teman lainnya jg bakal bantuin ngankutin barang ke truk :-)

So, bagi yang pernah diundang bantuin pindah-pindah, jangan ragu. Meski ga pernah ngangkat-ngangkatin barang berat pas di Indo (kayak gw), cobain aja. Lumayan kan, dapat teman dan siapa tahu, kelak mereka yang bakal bantuin kita ;-)

Minggu lalu, jam 1:30 pagi, suhu mencapai minus 3 derajat. Kami baru saja pulang dari pesta ulang tahunnya Daniel, teman Jerman kami yang baru saja berusia 28. Tiga tahun di Bremen, udah tak tehitung lagi party yang kami datangi. Biasanya datang ke party teman yang kami kenal dan kalo diundang. Ada macam-macam party-nya: birthday party, barbeque party, wedding party, party untuk pindah rumah, party selesai project university, ato sekedar iseng party aja menyambut summer.

Banyak orang Indonesia yang paranoid ama yang namanya party. Pikirannya udah yang nggak-nggak: mabuk-mabukan, jingkrak-jingkrak ga karuan, drugs, tripping, sampe seks bebas :mrgreen: Memang ada party seperti itu, terutama kalo salah pergaulan ama remaja ingusan yang usianya 13 – 18 tahun, tapi kecil banget kemungkinannya terjadi. Apalagi kebanyakan mahasiswa Indo yang sekolah di Jerman mengambil S2 jadi teman Jermannya pasti berusia di atas 24 dan lingkungannya lebih terpelajar.

BBQ-Party
BBQ party (2005) – party-nya favourite orang Jerman pas summer

Party itu sarana pergaulan yang sangat penting bagi remaja dan mahasiswa Jerman. Kayak orang Indo hobi ngumpul-ngobrol-makan di kafe, restoran, atau mall. Sangat susah masuk ke pergaulan mereka kalau kita tidak pernah party bareng mereka. Sekedar kuliah bareng aja ga cukup. Bagi mahasiswa Indonesia yang diundang party, jangan ragu untuk datang. Ini kesempatan besar untuk mendapat dan mengenal lebih banyak teman Jerman. Sayang banget kan udah jauh-jauh ke Jerman ;-)

Party di lingkungan yang terpelajar atau yang lebih ‘dewasa’ jauh dari kesan liar yang dimitoskan orang Indo. Kadang party-nya hanya sekedar ngumpul di rumah salah satu teman, ngabisin waktu dengan ngobrol-ngobrol dan makan-makan sambil diiringi musik yang lebih jinak (lagu-lagu pop atau alternatif, bukan techno atau house music).

Jadi, bagi kamu yang lagi kuliah di Jerman, cobalah datang ke party kalau di undang temanmu :-)

So, ini tips-tips party yang bisa gw bagi:

Baca trus …

24 Feb 2008

Dapet Kerja di Berlin

Berlin Bear IndonesiaDua hari yang lalu, akhirnya gw teken kontrak full-time job di Berlin. Kerjanya sangat lumayan: sebagai programmer di perusahaan yang bergerak di bidang desain grafis dan IT spesialis mobile.

Proses gw bisa dapet kerja ini lumayan lama. Gw pengen berbagi cerita, moga-moga bisa membantu dan menginspirasi mahasiwa Indo yang sekolah di Jerman untuk mencoba kerja full time di sini ;-)

Semua berawal semenjak gw masang CV gw di http://www.monster.de bulan November 2007.

Sebenarnya, gw udah mulai nyari kerja sejak Maret 2007, cuman gw ga pake monster ato job agency lainnya. Target gw jg sangat muluk pisan waktu itu: kerja di perusahaan video game di Inggris. Kerja di video game industry memang passion dan dream job gw. Gw kirim lamaran ke Sony Playstation, Capcom, dan beberapa perusahaan game lainnya. Kayaknya ada 20 same 30-an lamaran yang udah gw kirim dari bulan Maret sampe akhir Oktober, tapi ga ada satupun yang berhasil. Boro-boro di wawancarai, kebanyakan hanya di balas dengan penolakan.

Akhirnya gw sadar bahwa masuk ke dalam industri game (di UK) itu sangat sulit, meskipun gw punya minat dan experience di bidang ini.

Pertama, gw bukan warga EU, UK, atau USA. Work permit di UK sangat sangat sulit dan sejak tahun 2007 kemaren, aturannya lebih diperberat lagi. Gelar S2 tidak lagi cukup untuk kualifikasi immigran yang highly skilled.

violenceBeginsAtHomeKedua, untuk bisa masuk ke game industry, kamu harus punya professional experiences di game industry, yang tentu saja hanya bisa didapat kalo kamu kerja di perusahaan game professional sebelumnya. Lingkaran setan yang tricky untuk ditembus. Ketiga, gw makin lama makin kecewa dan udah ilfil dengan industri game yang kurang variasi, banyak kekerasan yang tidak perlu, dan mutu cerita yang sangat rendah (kecuali Nintendo dengan Wii-nya ;-) )

Masang CV di monster.de benar-benar mujarab :cool: Fokus dengan skill programmer di bidang mobile phone, gw upload CV gw. Tak lupa gw kasih foto dan cantumkan beberapa kota dan negara yang gw pengen: London, Paris, Swiss, Amsterdam, termasuk Berlin dan Hamburg. Dua hari kemudian, ada yang nelepon handphone!! Terkejut bgt, soalnya itulah telepon ‘wawancara’ pertama sejak gw melamar bulan Maret lalu :shock:

Setelah itu, hampir tiap hari gw dapat tawaran dari e-mail maupun telefon. Beberapa dari Inggris bahkan ada juga dari perusahaan game. Kebanyakan tawaran datang dari headhunter atau employment agency yang mencari orang-orang sesuai spesifikasi kerja yang mereka punya. Gw jg terus meng-apply kerjaan yang ada di monster.de, tapi masih belum kepikir untuk kerja di Jerman. Gw ga yakin bisa kerja di Jerman dengan bahasa Jerman gw yang sangat kurang.

Pertengahan November 2007, sebuah headhunter di Berlin meng-e-mail dan menelpon gw. Ada tawaran menarik di Berlin. Gw berkomunikasi dengan mereka pake bahasa Inggris dan gw bilang kalo bahasa Jerman gw masih sangat basic. Tapi ternyata itu tak masalah dan mereka bilang kalo perusahaan tersebut berminat untuk memanggil gw ke Berlin buat wawancara.

Biaya perjalanan Bremen-Berlin ditanggung perusahaan selama gw pake kereta api kelas dua, tapi gw bayar dulu semuanya pake uang gw. Setelah wawancara, gw kirim tiketnya ke perusahaan bersama rekening Bank Jerman dan beberapa hari kemudian mereka transfer uangnya :-)

Berlin BearsAda dua perusahaan di Berlin yang berminat. Empat kali bolak-balik Berlin-Bremen selama Desember 2007 – Januari 2008 buat dua kali wawancara untuk masing-masing perusahaan. Kebanyakan pulang hari, soalnya cuman 6 jam pulang pergi. Semua wawancara dalam bahasa Inggris dan gw juga sempat ditanyain beberapa technical questions.

Awal Februari 2008, salah satu perusahaan ini akhirnya setuju dan menawarkan kontrak dengan gaji yang sangat lumayan (38.400 Euro per tahun, brutto). Perusahaan ini juga cukup baik untuk menterjemahkan kontraknya ke bahasa Inggris :-)

Meskipun udah dapat kontrak, perjalanan gw masih panjang untuk mulai kerja. Gw masih harus mencari apartemen di Berlin, nge-pack barang, pindah ke Berlin, ngurus surat-surat pindah, dan yang paling menegangkan adalah mengurus work permit di kantor imigrasi Jerman.

Well, ntar gw kabarkan itu semua. Wish me luck ;-)

Hari ini gw terbaca sinopsis film “Perempuan Punya Cerita” di kompas online. Sayangnya kompas nggak bisa di-link, tapi sinopsis film dan trailernya juga bisa dilihat di  http://www.kalyanashira.com/perempuanpunyacerita/.

4 cerita pendek. 4 sutradara perempuan bercerita tentang 4 perempuan biasa yang punya pengalaman luar biasa. Tapi kenapa dari 4 cerita ini, kok semuanya cerita penderitaan perempuan ya?

Please don’t let it be another depressing movie…

Gw memang belum bisa nonton filmnya karena gw lg nggak berada di Indonesia, jadinya gw nggak bisa tau ending cerita film ini dan opini gw cuma bisa berdasarkan sinopsisnya aja.

Tapi, gw percaya kalau memberi mimpi itu lebih baik dari sekedar menangis bersama.

“A Thousand Splendid Suns” (http://en.wikipedia.org/wiki/A_Thousand_Splendid_Suns) adalah  sebuah novel karya Khaleed Hosseini (pengarang buku The Kite Runner). Novel ini juga berkisah tentang dua perempuan yang diatarbelakangi situasi politik dan kultur di Afghanistan yang menyudutkan perempuan.

Yang gw salut banget dengan “A Thousand Splendid Suns”, fokus ceritanya bukan ke arah penderitaan dua tokoh utamanya, tapi perjuangan perempuan untuk mencapai kebahagiaan dan kedamaian.

Gw nggak percaya kalau perempuan dilahirkan untuk menderita. Perempuan dilahirkan untuk membawa kebahagiaan, dan penderitaan seringkali hanyalah rintangan sementara untuk mencapai kebahagiaan.

13 Jan 2008

TV Jerman

Minggu adalah hari yang nggak enak banget buat jalan-jalan. Buat yang terbiasa hidup di Asia, pasti kaget kalo toko-toko di Eropa pada tutup di hari minggu. Yang buka cuman restoran dan tempat-tempat turis saja.

Iseng-iseng gw nyalain TV dan tune ke channel RTL2, TV swasta terkenal Jerman. Ternyata yang muncul serial TV Hercules! Serasa Deja Vu aja, soalnya jam menunjukkan jam 10 pagi, persis kayak 8 tahun lalu di RCTI. Belum lagi diikuti dengan Xena pas jam 11. Sayangnya, semuanya di-dubbing :(   Mengerikan banget melihat Hercules berbahasa Jerman. Ga cocok banget, kecuali pas para dewa-dewa ato karakter jahat, ntah kenapa, cocok banget kalo ngomong Jerman :twist:

hercules
Di TV Jerman, Hercules dkk bisa dipaksa ngomong Jerman

Bagi yang mikir TV Eropa itu keren,  salah besar, terutama TV Jerman. Selain semua acara di-dubbing ke Jerman, juga kalah cepat ama TV Indonesia dalam urusan memuter film-film bioskop. Gw inget tahun lalu, pas pulang ke Indo, nonton Spiderman 2 di TV. Di sini, baru 5 hari yang lalu, Spiderman 2 diputer di TV pertama kalinya. Lord of The Ring juga baru 2-3 bulan yang lalu diputer di sini :|

Acaranya juga banyak banget yang basi. Pernah nyalain TV malem-malem dan ngakak abis pas lihat The Bold and the Beautiful dan Remington Steele di TV :mrgreen:

Remington_Steele
Hare gene masih muter Remington Steele???

Kreatif? Ga juga. Ada acara kuis Jerman yang niru abis Takeshi Castle, kuis-kuis franchise dari Amrik, ato sekedar soap-opera Jerman yang ga jauh beda ama sinetron kita (minus karakter jahat yang di tabrak mobil begitu memijakkan kakinya di jalan raya :P ). Sisanya acara dokumenter yang menurut gw, garing.

Bagi yang penasaran ama apa aja acara TV Jerman, cek aja situs http://www.tvinfo.de. Cobain aja channel swasta kayak RTL2, dan Pro7. Dijamin bengong :-P

bagel2 Siang tadi, gw makan bagel isi ikan tuna, daun Ricola, tomato, dan black olive. Itulah makanan lebaran gw tahun ini :-)   Enak dan sehat lho ;-) Kami bertiga (sama Astrid dan temen Jerman kami, Julia) makan siang di cafe Coffee Corner, tempat langganan kami di kota. Habis itu, kami jalan-jalan window shopping di Viertel, shopping street-nya Bremen.

Tak terasa, hari ini adalah lebaran ke-4 kami di Bremen. Sejak tinggal di sini, belum pernah sekalipun mudik ataupun benar-benar merayakan lebaran.

Lebaran pertama, tahun 2004, kami lagi ikut weekend workshop di University of Arts Bremen. Yang ngajarnya TIm Edler, desainer dan arsitek yang lumayan terkenal, sayang banget kalo dilewatkan. Lebaran kedua, lagi sibuk project. Agak-agak lupa kenapa tapi rasanya ada master project di hari itu. Terus lebaran ke-3, rencananya mo ke Konjen Indonesia di Hamburg tapi telat banget pas nyampe di Hamburg dan malah ‘nyasar’ window shopping di pusat kota (niat ga sih :D ).

Rencananya sih, tahun ini maunya sholat Idulfitri di kantor PT Perantara Indonesia, perusahaan Indonesia yang menjual dan melelang tembakau Indonesia di Bremen. Kami sangka orang Indonesia di sini bakal lebaran tanggal 13, tapi ternyata mereka lebaran tanggal 12. Dan kami baru tahu itu tanggal 12 jam 10 siang (telat banget ga sih).

Tanpa maksud mengabaikan orangtua dan saudara di Indonesia, gw nggak begitu merasa kehilangan dan sudah terbiasa dengan suasana di sini. Mungkin karena kami berdua di sini, kali ya? Toh, maaf-maafan dengan orangtua biasa kami lakukan lewat telefon di hari pertama. Dua tahun terakhir, kamu juga sudah sangat jarang masak dan makan makanan Indonesia jadi ga kehilangan sama opor, rendang, atau lontong kari (kan juga sangat tidak sehat).

Moga-moga tahun depan kami masih lebaran di Eropa, sudah berpenghasilan, dan bukan student lagi ;-) Amiiiin.