Bolu Kukus Abiyasa

Terbuat dari bahan-bahan hasil pemikiran dan keisengan Abiyasa

Bolu Kukus

[kata benda]
1. Panganan kecil, dimakan di saat santai sambil minum teh atau kopi
2. Manis, ringan, dan mudah dicerna

Waktu ke museum Modern Art Pompidou di Paris kemaren, ada pameran karikatur karyanya Willem. Hampir semua yang dipamekan berbau sindiran dan politik, dan ada juga mengenai konflik di Timur Tengah.

Tapi ada satu karya yang menurut gw sangat pas gambarin betapa sulitnya masalah Palestina-Israel.

Klik thumbnail di bawah untuk ukuran besar. (Warning: Although it’s only illustration, some people might find it disturbing. You’ve been warned)

Karikatur Israel & Palestina

Palestina & Israel memang seperti bayi kembar siam yang ternyata hanya punya satu jantung dan organ penting lainnya. Memisahkan dengan paksa kedua bayi berarti harus ‘membunuh’ salah satu atau bahkan malah dua-duanya bisa mati. Tidak ada solusi mudah untuk persoalan ini.

Mungkin solusi ‘terbaik’, ya biarkan saja mereka berdua hidup berdampingan. Ga usah maksain untuk dipisahin.

Semoga ada perdamaian bagi orang-orang Israel dan Palestina.

Jeleknya Detik.com

August 27th, 2006

Situs berita yang satu ini termasuk situs berita yang sering gw cek. Minimal sekali sehari. Isinya sering di-update dan lumayan bagus buat tahu berita yang sedang hot di Indo. Selain detik.com, gw juga sering baca situs portal berita lainnya seperti tempointeraktif, gatra, kompas, dan pikiran rakyat (buat kota Bandung).

Tapi setelah beberapa tahun terakhir ini, nge-browse detik.com nggak terlalu nyaman lagi. Mungkin orang juga sering denger omelan gw ini.

Loading time yang luama. Kalo kita klik detik.com, kadang perlu 1 menit buat muncul. Entah apa yang di-load detik.com ini. Java applet? Spamware? Bahkan browser gw bisa freeze pas lagi nge-load situs detik.com :x

Iklan yang super padat. Setelah loading 1 menit lamanya, apa yang muncul di layar? Headlines? Bukan. Iklan hampir selayar penuh :?

Situs detik.com
Situs iklan apa situs berita ya?

Kesannya padat. Padat di sini bukan ‘ringkas dan padat’ tapi ‘penuh and sesak’. Iklan-iklan yang sangat banyak dan ada di mana-mana ini, menyebabkan situs ini terkesan sesak. Ada yang salah dengan layout-nya terutama cara penempatan banner-banner iklan (dan mungkin juga ukurannya) sehingga tidak terlalu enak di mata.

Iklan dimana-mana
Iklan di kolom kiri, kanan, bawah, dan di tengah-tengah konten

Iklan yang nutupin headline berita
Iklan yang bisa nutupin headline berita

Tapi kalo kita lihat detikportal (versi bayar detik.com), semua kesan jelek ini benar-benar hilang. Salah satu sebabnya adalah warna dasar detikportal yang putih bersih sehingga tidak menambah keramaian konten.

Desannya jelek. Warna dasar biru jreng dan krem (agak kuning). Teks headline warna kuning terang. Belum lagi warna-warni lainnya dari banner iklan :shock: Menurut gw detik.com ketinggalan zaman untuk desain layout tampilannya. Kayak situs berita di Internet tahun 97-98. Padahal sekarang tren warnanya lebih ke arah warna yang lebih soft. Atau bentuk rounded rectangle dengan gradient (‘candy’ effect).

Anehnya lagi, yang buruk rupa cuman detik.com. Sedangkan ‘saudara-saudara’ detik lainnya seperti detikhot, detikInet, detikFood, ataupun detikSport, tampilannya benar-benar beda dan jauh lebih baik. Ada apa ini? :evil:

Itu baru tampilan. Belum isinya yang terkadang ngutip dan terjemah dari situs lainnya (terutama di detikInet), tidak adanya fitur ‘feed’ (RSS feed), atau kalimat-kalimat berita yang ambigu dan tidak nyambung. Gw juga bukan wartawan dan cuman penulis amatir tapi untuk selevel detik, seharusnya penulis-penulisnya punya dasar jurnalistik yang baik :|

Moga-moga tim desain detik.com bisa memperbaiki ini semua. Yah, biar situs ini menjadi lebih enak dibaca dan dilihat ;)

Tujuh belasan di Hamburg

August 18th, 2006

Kemaren, kami berdua berencana ke Konjen RI di Hamburg buat ngerayain tujuh belasan. Di Bremen memang ga ada acara menyambut kemerdekaan dan biasanya orang Indo di Bremen ngumpulnya di Hamburg.

Rencananya pengen nyampe di sana sekitar jam 10-an. Karena ada kerjaan yang ga bisa dihindari, akhirnya kami pun telat berangkat ke Hamburg (baru berangkat jam 1 siang :| ) Perjalanan ke Hamburg memakan waktu 1 jam 20 menit dengan menggunakan kereta api antar kota yang bersih, nyaman, ber-AC, dan gratis untuk mahasiwa universitas Bremen dengan semester ticket :)
Nyampe di Hamburg sekitar jam 3-an, kami pun memutuskan nggak jadi ke Konjen RI. Selain udah telat abis, mungkin udah ga ada orang, dan harus bayar tiket ekstra buat naik underground train ke sana. Akhirnya kami pun gagal nyambut 17-an uutuk kedua kalinya dan malah makan siang di restoran Jepang dan window shopping di city center Hamburg (niat ga sih tujuh belasan :twisted: ).

Trus sekitar jam 6 sore, kami janji ketemuan sama teman sekuliahan kami yang tinggal di Hamburg buat ngopi bareng. Joost Van Eupen namanya, orang Belanda yang besar di Jerman, dan bersama pacarnya kami pun hinggap di pub terdekat. Double date nih ceritanya.

Minum kopi, terus makan malam sambil ngobrol-ngobrol. Tak terasa sudah jam 9 malam. Kami pun berhasil ngejar kereta balik ke Bremen yang jam 9 lewat 15 menit.

“Benar-benar menyenangkan hari ini”, pikir gw. Bukan hanya karena window shopping-nya tapi karena bertemu sobat dekat. Astrid pun nyeletuk, “60-an tahun yang lalu, kita dan mereka (orang Belanda) nggak bisa duduk semeja sambil minum kopi bareng dengan akrabnya”. Bener juga.

Joost orang Belanda, kami orang Indo. Kalo saja kita hidup di masa 70 tahun yang lalu, ngopi bareng kayak sore tadi ga bakal ada. Tapi sekarang beda ceritanya.

Kita memang udah merdeka. Setidaknya sudah merdeka dari rasa dendam sama saudara tua kita. Malah sudah lupa tuh kalo ada ‘sesuatu’ di antara kita dulunya.

Moga-moga kemerdekaan yang sama bisa terjadi di Israel, Palestina, dan Libanon. Semoga mereka semua bisa merdeka dari rasa dendam, benci, dan saling curiga.

Bip Biiiip. MP3 player Sony gw memutar lagu Imagine-nya John Lennon.

Betapa indahnya kalo mereka bisa duduk semeja dan ngopi bareng dengan akrabnya :)

Tiap tahun ajaran baru, kita selalu dengar berita tentang plonco, ospek, atau ‘masa orientasi’. Di SMP, SMA, Universitas, atau sekedar untuk masuk unit mahasiswa. Korban tak sedikit dan tiap tahun selalu terulang.

Ada tujuh hal menarik yang menyebabkan plonco ini bisa dibilang saudara dekatnya korupsi.

1. Sudah ada sejak doeloe
Dari sejak angkatan orangtua kita sampai angkatan adik-adik kita, tradisi ini tidak pernah hilang. Selalu ada penerusnya.

2. Susah diberantas
Pihak rektor sudah melarang, banyak yang mengecam, udah masuk koran, tapi nggak hilang-hilang. Tiap tahun selalu terulang hampir di setiap kampus. Sama kayak korupsi yang sudah mendarah daging, plonco juga susah banget diberantas.

3. Dari yang atas dan hingga yang bawah
Plonco bukan monopoli kalangan universitas saja. Kini anak-anak SMP juga ikut-ikutan dan juga makin unik (baca: sadis). Mungkin kelak anak SD juga bakal ada. TK kayaknya nggak bakal ada deh, dua tahun terlalu singkat soalnya :D

4. Korban dan Pelaku sama-sama senang
Nggak sedikit lho para ‘korban’ yang senang banget di plonco. Senior senang dan lega karena bisa mlonco, dan junior yang diplonco pun bisa diterima dengan mudah di lingkungan barunya. Pokoknya win-win solution deh ;)

5. Di ‘lindungi’ oleh instansi besar
Jangan fikir plonco itu illegal lho. Terkadang memang di dukung oleh universitasnya. Kalopun rektor melarang, paling tidak masih didukung oleh organisasi-mahasiswa besar, yang memang diakui secara legal oleh universitas. Ada korban yang coba menuntut? Jangan coba deh. Beking-nya kuat dah :(

6. Kalo ga ikut bakal menderita
Mencoba menentang arus? Jadi mahasiswa non-himpunan? Boleh saja. Tapi bakal sulit hari-harimu di kampus. Bisa ga dilulusin oleh asisten mata kuliah yang ternyata para seniormu juga. Masih untung ga digebukin :(

7. Hukum nepotisme berlaku
Mo selamat? Coba deketin aja salah satu senior yang paling ‘galak’. Untung-untung kalo itu ternyata kakakmu. Ga bakal ada yang berani nyentuh deh. Udah ada ‘memo’ dari atasan soalnya.

Yah begitulah… :cry:

Nonton Bioskop Yuk di Jerman

August 1st, 2006

BioskopHobi gw yang satu ini ga pudar biarpun gw di Jerman :) Mahal? Ga juga. Dengan 5 Euro (sekitar 60 ribu Rupiah) kita bisa nonton di Cinemaxx, sekelas bioskop 21 kalo di Indo. Di Jakarta juga biasa segitu so ga begitu mahal kan? Aslinya sih 7 Euro tapi tunjukkin kartu pelajar dan dapat diskon.

Tapi sebelum kita nonton, ada beberapa hal menarik yang bisa kita simak.

1. Di-Dubbing
Bukan hanya Jerman, tapi hampir semua negara Eropa men-dubbing film di bioskop.Mulai dari judul, pengisi suara, bahkan untuk beberapa movie, ada teks-teks yang di-edit menjadi bahasa Jerman. Proses dubbing yang lumayan lama menyebabkan film-film terbaru kalah cepat muncul di Jerman dibanding Jakarta sekalipun.

Tapi jangan takut, kebanyakan bioskop besar juga menayangkan versi Inggris, yang biasanya muncul 2-3 minggu setelah yang versi Jerman. Tapi sayangnya, nggak semua movie bakal muncul versi Inggrisnya :(
2. Judul kadang juga diubah
Judul bukan hanya diterjemahkan langsung ke bahasa Jerman, tapi terkadang di ubah sedikit. Orang Jerman lebih suka judul yang frontal dan straight forward sama tema movie, kurang suka yang puitis ato yang aneh-aneh. Contohnya, Meet the Parents di terjemahkan menjadi Meine Braut, ihr Vater und ich yang artinya my bride, her father, and me. Atau Eternal Sunshine of the Spotless Mind yang diubah menjadi Vergess mir nicht (forget me not).

3. Ada biaya Ekstra
Hati-hati, mesti lihat di Internet sebelum pergi ke bioskop.Untuk film yang lebih dari 2 jam, akan ada biaya ekstra 1 Euro! :shock: Begitu pula tempat duduk. Kalo duduk di baris belakang, juga nambah lagi 1 Euro!! :shock: Kalo ga mau bayar ekstra, terpaksa duduk di rombongan depan yang agak datar. Bakal sakit leher gara-gara mendongak 2 jam-an :|
4. Iklannya luaamaa pisan
Di Indo, kalo di tiket tertulis jam 8 malam, itu artinya movie mulai diputar jam 8 atau lewat 10 menit. Tapi di Jerman, kita harus nunggu 30 - 40 menit buat iklan. Jam 8 tepat ruang theater menjadi gelap kayak mo mulai nonton tapi ternyata malah disuguhin iklan. Biasanya 15-20 menit buat iklan produk, kemudian 10 menit terakhir buat trailer film-film yang akan datang.

Setelah iklan selesai, lampu ruangan kembali dinyalakan dan … beberapa petugas masuk sambil menjajakan dagangannya (biasanya produk yang baru saja di iklankan) :shock: 5 menit kemudian, barulah kita mulai nonton.

5. Ada Break di tengah-tengah
Kalo movie-nya lebih dari 2 jam, biasanya ada pause/break di tengah-tengah movie! Bayangkan saja tiba-tiba lampu kembali dinyalakan dan baru dilanjutkan 5 menit kemudian. Bagus juga sih buat ke WC tapi salah-salah bisa hilang mood :|
Dari tadi cuman dapat yang ga enaknya. Trus apa kelebihannya? Klik more untuk lima point selanjutnya. Read the rest of this entry »